Showing posts with label Debian. Show all posts
Showing posts with label Debian. Show all posts

Monday, May 7, 2012

Instalasi dan Konfigurasi Server VSFTPD di Debian Linux

Selain HTTP yang biasa kita gunakan untuk berselancar, protokol FTP termasuk yang paling populer digunakan penduduk dunia maya. FTP atau File Transfer Protocol merupakan protokol yang dirancang khusus untuk memindahkan berkas dari klien ke server atau sebaliknya. Singkatnya FTP biasa digunakan untuk mengunggah (upload) dan mengunduh (download) berkas. Walaupun begitu kita lebih sering menggunakannya untuk mengunduh berkas di FTP publik. Para pengguna Linux tentu saja sangat familiar dengan aplikasi ini karena biasanya digunakan untuk menyediakan berbagai perangkat lunak FOSS ke pengguna akhir.

Instalasi
Ada banyak sekali pilihan aplikasi server FTP, salah satunya yang akan kita bahas kali ini bernama VSFTPD. Kebanyakan distro Linux sudah menyertakan VSFTPD di reponya. Di Debian misalnya kita dapat dengan mudah memasang server FTP yang banyak digunakan karena stabilitas, performa, dan keamanan ini menggunakan Synaptic, apt-get, atau aptitude.
aptitude install vsftpd
Dengan menjalankan perintah di atas sebagai root, server VSFTPD akan terpasang di sistem Debian secara otomatis. Setelah itu kita bisa mencoba memastikan server FTP sudah berjalan dengan menggunakan perintah:
service vsftpd status
Jika sudah berjalan maka keluaran perintah di atas adalah 'vsftpd is running'. Misalnya saja server VSFTPD tidak berjalan ketika kita periksa, kita dapat menjalankannya secara manual seperti berikut.
 service vsftpd start
Untuk mematikan layanan VSFTPD kita menggunakan perintah:
service vsftpd stop
Sedangkan untuk menghidupkan ulang layanan server FTP setelah melakukan perubahan pada konfigurasi kita harus mengeksekusi perintah di bawah ini.
service vsftpd restart
Konfigurasi
Berkas pengaturan server VSFTPD terletak di /etc/vsftpd.conf, bentuknya adalah teks biasa sama seperti kebanyakan berkas pengaturan di Linux. Perubahan dapat dilakukan dengan menggunakan sembarang editor teks.
vim /etc/vsftpd.conf
Beberapa pengaturan dasar yang kemungkinan perlu kita ubah di konfigurasi server VSFTPD:

  • anonymous_enable, jika diberi nilai YES artinya pengguna tanpa username sah di server dapat menggunakan layanan ini
  • local_enable, jika diberi nilai YES artinya pengguna lokal dapat login ke server FTP ini
  • write_enable, pengaturan ini menentukan apakah pengguna dapat mengunggah ke server FTP ini atau tidak
  • ftpd_banner, string yang digunakan sebagai ucapan selamat datang ke pengguna yang login
  • chroot_user_local, pengaturan ini akan memaksa pengguna untuk hanya menggunakan direktori home-nya
Pengaturan-pengaturan ini sudah ada di berkas konfigurasi VSFTPD, untuk mengaktifkannya kita tinggal menghilangkan tanda # di depan pengaturan bersangkutan. Contoh pengaturan yang sudah jadi:
anonymous_enable=NO
local_enable=YES
write_enable=YES
ftpd_banner=Selamat datang dilayanan FTP sarimula
chroot_local_user=YES
Sesuaikan pengaturan lain yang dirasa perlu, lalu restart layanan server VSFTPD. Terakhir cobalah login menggunakan salah satu klien FTP yang ada. Klien paling sederhana dan pasti ada di setiap distro Linux tentu saja klien berbasis baris perintah.
ftp localhost
Masukkan username dan password user. Jika user sudah bisa login dengan benar artinya server FTP kita sudah siap digunakan.

Wednesday, April 4, 2012

Cara Mudah Upgrade VirtualBox di Linux

Salah satu kelebihan dan (mungkin) sekaligus menjadi kelemahan berbagai perangkat lunak open source adalah betapa seringnya rilis versi terbaru. Untung karena biasanya update seperti ini membawa perbaikan terhadap kutu (bug) di rilis sebelumnya. Seringkali perbaikan ini bersifat kritis karena berkaitan dengan masalah keamanan. Jadi titik lemah karena pengguna harus rajin mengunduh versi terbaru dan memasangnya. Ditambah lagi kebanyakan perangkat lunak ini belum menyediakan cara yang mudah untuk melakukan upgrade. Pengguna harus melakukannya sendiri secara manual. Beberapa distro Linux mengatasinya dengan menyediakan package manager. Debian menjadi salah satu yang terbaik untuk urusan ini. Namun solusi ini hanya berlaku untuk perangkat lunak yang disediakan distro bersangkutan di repo. Pengguna masih harus tetap melakukan upgrade manual jika menggunakan perangkat lunak dari third party.

VirtualBox bisa menjadi contoh bagus untuk kasus ini. Jika menggunakan VirtualBox OSE (Open Source Edition) dari repo Debian, kita cukup menjalankan:
aptitude update
aptitude upgrade
Maka versi terbaru VirtualBox akan dipasang. Sedangkan pengguna VirtualBox unduhan langsung dari Oracle harus melakukan upgrade setiap kali ada rilis versi terbaru. Untungnya Oracle sudah menyediakan VirtualBox dalam bentuk installer DEB. Sehingga para pengguna Debian GNU/Linux cukup menghapus VirtualBox versi lama, lalu memasang versi terbaru untuk melakukan upgrade VirtualBox di Linux Debian.

Hapus (uninstall) VirtualBox versi sebelumnya (4.1.8 atau 4.1.10) dengan perintah berikut.
aptitude purge virtualbox-4.1
Lalu pasang versi terbaru (4.1.12) menggunakan perintah berikut.
dpkg -i virtualbox-4.1_4.1.12-77245~Debian~wheezy_amd64.deb
Sebelumnya unduh dulu VirtualBox versi terbaru dari sini. Sesuaikan sistem operasi dan arsitektur installer yang hendak diunduh dengan distro yang kita gunakan.

Untuk memastikan VirtualBox merupakan versi terbaru, cek melalui menu Help->About VirtualBox.

Saturday, March 17, 2012

Instalasi USB 3G Modem Huawei Linux Ubuntu/Debian

Linuxer dan komunitas Linux itu tumbuh dan besar bersama Internet. Linuxer tanpa akses Internet itu ibarat sayur tanpa garam, hambar! Untungnya akses Internet di Indonesia makin murah meriah. Pilihan modem yang mendukung berbagai distro Linux juga makin banyak di pasaran. USB 3G/HSDPA modem keluaran berbagai vendor seperti Huawei, Prolink, dkk kebanyakan tidak perlu oprekan tambahan lagi di Ubuntu, Debian, BlankOn, Fedora, atau distro lainnya. Dahulu kala mungkin para Linuxer harus berlelah-lelah berkutat di terminal demi usaha menjalankan USB 3G/HSDPA modem miliknya di Linux.

Kini semua itu sudah berubah, instalasi modem di Linux sudah sangat mudah. Selama driver modem tersebut sudah tersedia di kernel Linux, kita sudah dapat menginstalnya menggunakan Network Manager yang berbasis GUI di Gnome, LXDE, atau KDE. Di Debian GNU/Linux dengan LXDE (Lightweight X Desktop Environment) misalnya, ketika kita klik pada Network Manager di panel akan muncul opsi untuk membuat profil koneksi USB 3G/HSDPA untuk modem yang langsung terdeteksi.
Dengan memilih "New Mobile Broadband (GSM) connection..." pada menu tersebut, kita akan dibawa pada wizard instalasi USB 3G/HSDPA modem Huawei di Linux Debian seperti berikut.
Klik Continue untuk melanjutkan.
Pilih Indonesia, lalu klik Continue.
Pilih provider (operator) yang kita gunakan. Lanjutkan dengan mengklik Continue.
Jika menggunakan APN atau data plan yang berbeda, pilih 'My plan is not listed...' kemudian isikan nama APN di kotak isian. Klik Continue untuk melanjutkan.
Periksa kembali konfigurasi yang kita buat, klik Apply untuk memulai koneksi ke Internet.
Masukkan password root ketika diminta. Pengguna Ubuntu hanya perlu memasukkan password user dengan akses sudo.
Kita sudah dapat koneksi Internet berkualitas 3G/HSDPA menggunakan modem USB 3G Huawei di Debian Linux atau Ubuntu dengan mudah. Selamat mengoprek Linux dan berinternet ria.

Friday, March 16, 2012

Mengakses USB dari Linux Fedora di VirtualBox

Dewasa ini USB Flashdisk telah menjadi salah satu media berbagi dan menyimpan data paling populer. Tapi kalau sudah bisa mengakses shared folders antara host dan guest virtual machine di VirtualBox, mengapa masih butuh akses ke USB? Mungkin saja kita butuh mengakses printer, modem, atau peralatan lainnya yang terhubung ke host Linux menggunakan USB. Instalasi VirtualBox dengan sistem operasi host Linux kemungkinan membutuhkan konfigurasi tambahan untuk mengakses device USB.

Konfigurasi tambahan di host Linux dibutuhkan karena rilis terbaru distro-distro Linux tidak mendukung usbfs secara default. Setelah konfigurasi selesai, kita sudah dapat menambahkan device USB yang hendak diakses di VirtualBox dengan mengakses menu Settings di VirtualBox Manager. Pastikan untuk mentik pilihan 'Enable USB Controller' dan 'Enable USB 2.0 (EHCI) Controller'.
Pada jendela dialog tersebut, klik ikon USB dengan tanda tambah untuk melihat device apa saja yang tersedia untuk diakses dari virtual machine VirtualBox.
Pilih salah satunya. Ulangi langkah yang sama untuk menambahkan USB device yang lain. USB device yang sudah ditambahkan akan terlihat seperti pada screen shot berikut.
Klik OK untuk menyimpan konfigurasi dan kembali ke VirtualBox Manager.

Untuk menguji, hidupkan virtual machine yang diberikan akses USB. Cobalah akses USB device tersebut menggunakan file manager Nautilus.
Kita juga dapat menambah atau mengurangi USB device yang diakses oleh VirtualBox ketika sistem operasi guest sudah berjalan. Di jendela virtual machine VirtualBox seperti terlihat pada gambar di atas, klik pada menu Devices -> USB Devices.
Kemudian pilih salah satu USB device yang hendak ditambahkan.

Demikianlah betapa mudahnya menambahkan akses USB di VirtualBox dengan host dan guest Linux.

Wednesday, March 14, 2012

Error VirtualBox: Could Not Load The Host USB Proxy Service

Ada satu masalah yang muncul setiap kali hendak melakukan konfigurasi ulang virtual machine di VirtualBox yang di-install di Debian GNU/Linux. VirtualBox selalu menampilkan warning 'Failed to access USB subsystem'. Walaupun VirtualBox masih dapat bekerja dengan normal, tapi masalah cukup mengganggu. Setelah melakukan sedikit pencarian di Google, sepertinya warning ini muncul karena distro Debian GNU/Linux tidak lagi menyertakan dukungan usbfs secara default.

Jika mendapatkan warning seperti di tangkapan gambar di bawah ini, artikel ini mungkin bisa sedikit membantu untuk menyelesaikannya.
Warning tersebut menyatakan:
Could not load the Host USB Proxy Service
(VERR_FILE_NOT_FOUND). The service might not be installed on
the host computer.
Kita bisa mengklik tombol Details untuk tampilan warning yang lebih teknis.
Resul Code: NS_ERROR_FAILURE (0x00004005)
Component: Host
Interface:     IHost {dab4a2b8-c735-4f08-94fc-9bec84182e2f}
Callee:          IMachine
Isi warning ini sebenarnya bisa jadi petunjuk atau kata kunci ketika mencari solusi di Google.

Solusinya juga tidak terlalu sulit. Kita hanya perlu mengaktifkan usbfs dengan mendaftarkannya di /etc/fstab dan mengaitkannya. Di berkas /etc/fstab tambahkan baris berikut.
usbfs /proc/bus/usb usbfs defaults,devmode=664 0 0
Kaitkan dengan menjalankan perintah berikut dari terminal.
mount -a
Lalu cek apakah usbfs sudah aktif atau tidak dengan perintah mount, seperti terlihat di tangkapan layar berikut.
Hidupkan ulang (reboot) komputer atau muat ulang modul VirtualBox. Gunakan perintah berikut untuk memuat ulang modul VirtualBox tanpa menghidupkan ulang komputer.
service vboxdrv restart
Pastikan tidak ada warning lagi ketika mengklik tombol Settings di VirtualBox Manager. Salah satu kemungkinan warning yang bisa muncul tampak pada gambar di bawah.
Jika mendapat warning seperti itu, tambahkan user yang digunakan ke group vboxusers.
usermod -G vboxusers -a rotyyu
Muat ulang modul VirtualBox. Lalu hidupkan ulang komputer atau logout kemudian login kembali.

Referensi: forums.virtualbox.org

Thursday, March 8, 2012

Mencoba MySQL Cluster di Linux Debian

MySQL adalah salah satu poyek open source paling sukses hingga saat ini. Hampir semua aplikasi web modern menggunakan MySQL sebagai backend untuk basis datanya. MySQL bahkan menjadi salah satu komponen utama dari empat komponen dalam cerita sukses Linux menguasai pasar server. Huruf M pada LAMP merujuk ke MySQL, tiga lainnya terdiri dari Linux, Apache, dan PHP. Sebagai komponen penting, MySQL harus selalu tersedia untuk melayani berbagai request dari user.

Menjaga ketersediaan suatu layanan seperti MySQL tentu bukan suatu pekerjaan mudah, ada banyak faktor yang berpengaruh. Namun bukan pula sebuah perkara yang mustahil. Bahkan Oracle yang kini menjadi pemilik MySQL sudah menyediakan MySQL Cluster. Bagaimana MySQL Cluster menjamin layanan MySQL akan selalu tersedia? Redundancy. MySQL akan dijalankan di beberapa server, sehingga ketika salah satu server mati akan segera digantikan oleh server lainnya.

Nah, di tutorial kali ini kita akan mencoba memasang MySQL Cluster di Debian GNU/Linux. Walaupun idealnya sebuah sistem cluster dijalankan di beberapa server berbeda, dalam tutorial ini kita akan menjalankannya dalam satu server saja. Berikut step by step instalasi MySQL Cluster di Debian GNU/Linux.
  1. Unduh installer MySQL Cluster dari mysql.com. Pilih Linux-Generic, sesuaikan arsitekturnya dengan distro Linux yang digunakan.
  2. Ekstrak tarball berisi installer biner MySQL Cluster.
  3. tar -xzvf mysql-cluster-gpl-7.2.4-linux2.6-x86_64.tar.gz
    mv mysql-cluster-gpl-7.2.4-linux2.6-x86_64 mysqlc
  4. Buat direktori untuk menampung data dan konfigurasi MySQL Cluster.
  5. mkdir -p my_cluster/{conf,mysqld_data,ndb_data}
  6. Buat konfigurasi untuk mysql.
  7. vim my_cluster/conf/my.cnf
    Salin tempel pengaturan berikut ke berkas tersebut.
    [mysqld]
    ndbcluster
    datadir=~/my_cluster/mysqld_data
    basedir=~/mysqlc
    port=5000
  8. Buat konfigurasi untuk cluster yang akan dijalankan. Di contoh ini kita akan menjalankan dua node.
    vim my_cluster/conf/config.ini
    Contoh konfigurasi paling sederhana untuk satu server MySQL (mysqld), dua node data (ndbd), dan satu node manajemen (ndb_mgmd).
    [ndb_mgmd]
    hostname=localhost
    datadir=~/mysql_cluster/ndb_data
    NodeId=1

    [ndbd default]
    noofreplicas=2
    datadir=~/mysql_cluster/ndb_data

    [ndbd]
    hostname=localhost
    NodeId=3

    [ndbd]
    hostname=localhost
    NodeId=4

    [mysqld]
    NodeId=50
  9. Jalankan skrip mysql_install_db untuk mempopulasikan basis data yang dibutuhkan MySQL.
  10. ./mysqlc/scripts/mysql_install_db --no-defaults --datadir=~/mysql_cluster/mysqld_data/
  11. Jalankan node manajemen, lalu node data secara berurutan.
  12. ./mysqlc/bin/ndb_mgmd -f ~/mysql_cluster/conf/config.ini --initial --configdir=~/mysql_cluster/conf
    ./mysqlc/bin/ndbd -c localhost:1186
    ./mysqlc/bin/ndbd -c localhost:1186
    Hasilnya tampak seperti pada screen shot berikut.
  13. Cek status node data.
  14. ./mysqlc/bin/ndb_mgm -e show
    Pastikan proses start up node-node ini sudah selesai.
  15. Jalankan server MySQL (mysqld).
  16. ./mysqlc/bin/mysqld --defaults-file=~mysql_cluster/conf/my.cnf
  17. Login ke server MySQL dan cobalah untuk mebuat basis data dan tabel menggunakan storage engine ndb.
  18. ./mysqlc/bin/mysql -h 127.0.0.1 -P 5000 -u root
    create database coba_cluster;
    use coba_cluster;
    create table coba(id int not null primary key) engine=ndb;
    insert into coba values (1), (2), (3), (4), (5);
    select * from coba
MySQL Cluster selesai di-install :-)

Saturday, March 3, 2012

Broadcom BCM43228 di Linux Debian Unstable

Kemudahan upgrade menjadi salah satu fitur yang menyenangkan dari sistem operasi GNU/Linux. Berbagai distro menyediakan perangkat lunak untuk mempermudah user memperbarui sistemnya. Di Debian, sistem package management dpkg dengan front end aptitude, apt-get, atau Synaptic tak perlu diragukan lagi kehandalannya. Namun fitur ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Selaian menjadi keunggulan, juga jadi kelemahan. Terkadang ada saja perangkat keras yang tidak bekerja lagi setelah melakukan upgrade, padahal perangkat keras tersebut bekerja dengan baik sebelum upgrade dilakukan.
Wireless chipset Broadcom BCM43228 802.11a/b/g/n menjadi salah satu korban ketika Debian Unstable di-upgrade ke versi terakhir. Kalau dilihat dari lspci, wireless chipset ini terdeteksi sebagi:
Network controller: Broadcom Corporation BCM43228 802.11a/b/g/n
Masalah ini terjadi karena di update Debian unstable terbaru paket broadcom-sta-modules-3.1.0-1-amd64 tidak lagi tersedia. Firmware untuk Broadcom BCM43XXX versi sebelumnya tetap ter-install di sistem tapi menjadi tidak berguna karena menurut hasil uname -r, kernel sudah diperbarui juga menjadi:
3.2.0-1-amd64
Solusinya adalah menghapus semua paket Broadcom STA Modules.
su
aptitude purge broadcom-sta-common broadcom-sta-modules-3.1.0-1-amd64 broadcom-sta-source
Dan menggantinya dengan module DKMS untuk Broadcom.
aptitude install broadcom-sta-dkms
Dua langkah di atas sebenarnya dapat dipersingkat dengan langsung meng-install paket broadcom-sta-dkms. aptitude akan menghapus semua paket yang berkaitan dengan Broadcom STA Modules secara otomatis karena ditandai sebagai konflik dengan broadcom-sta-dkms.
Oh ya, sebelumnya jangan lupa dulu untuk memasang paket source code dari kernel yang digunakan.
aptitude install linux-headers-3.2.0-1-amd64
Cek hasilnya dengan menghidupkan ulang komputer :-)

Sunday, February 26, 2012

Enkripsi GPG Menggunakan Private Key dan Public Key

Enkripsi secara umum terbagi dua, simetris dan asimetris. Enkripsi simetris (symmetric encryption) menggunakan kunci yang sama untuk enkripsi dan dekripsi. Enkripsi asimetris (asymmetric encryption) sebaliknya, justru menggunakan dua kunci yang berdeda (public key dan private key) masing-masing satu kunci untuk enkripsi dan dekripsi. Enkripsi simetris mempunyai kelemahan karena dua pihak yang saling berkirim pesan memiliki kunci yang sama. Artinya pihak yang mengenkripsi pesan (pengirim) harus mengirimkan kunci yang digunakan ke penerima untuk mendekripsi pesan. Seandainya penyerang membajak kunci ketika dikirimkan, maka dia dapat membaca pesan yang dienkripsi.
Kelemahan ini diatasi dengan enkripsi asimetris. Pada metode ini, sebelum pengiriman pesan dimulai pihak pengirim akan membuat dua pasang kunci, private key dan public key. Public key akan dikirimkan ke pengirim data dan akan digunakan untuk mengenkripsi data. Penerima pesan nantinya akan mendekripsi pesan dengan private key pasangan kunci yang dikirimkan ke pengirim. Enkripsi asimetris maupun simetris dapat dilakukan dengan GPG (GNU Privacy Guard). Enkripsi simetris sudah dibahas di artikel sebelumnya, kali ini kita akan mencoba enkripsi asimetris.
Pertama-tama kita harus membuat pasangan kunci terlebih dahulu. Proses ini akan menghasilkan public key dan private key. Ketikkan perintah berikut dari terminal:
gpg --gen-key
GPG akan menanyakan beberapa informasi untuk pembuatan kunci.  Mulai dari jenis kunci dan algoritma yang digunakan (default menggunakan RSA), panjang kunci (default 2048 bit), lamanya masa aktif kunci, nama, alamat email, hingga komentar untuk kunci yang dibuat.
Di akhir pengisian informasi pembuatan kunci, ketik O untuk memulai pembuatan kunci. Pass phrase bisa diisi, bisa juga tidak karena sifatnya opsional. Setelah pembuatan kunci berhasil, GPG akan menampilkan informasi tentang kunci tersebut.
Supaya orang lain dapat mengenkripsi data yang hendak dikirimkan ke kita menggunakan public key milik kita, maka mereka harus mendapatkan kunci tersebut. Kita dapat mengirimkannya langsung atau menyediakannya di sebuah key server. Sebelum mengirimkan public key, terlebih dahulu kita buat versi ASCII dari kunci tersebut dengan perintah berikut.
gpg --armor --output pubkey.txt --export 'Rotua Damanik'
Perintah di atas akan menghasilkan public key dengan format teks ASCII di dalam berkas pubkey.txt.
Karena sudah memiliki pasangan kunci public dan private, kita sudah bisa mengenkripsi pesan untuk kepentingan pribadi. Untuk enripsi pesan menggunakan public key milik sendiri, gunakan perintah berikut.
gpg --encrypt --recipient 'Rotua Damanik' pesan.txt
Perintah di atas akan menghasilan pesan dalam berkas pesan.txt.gpg yang berbentuk biner. Jika ingin membuat pesan enkripsi dalam format teks ASCII ganti perintah tersebut menjadi:
gpg --armor --encrypt --recipient 'Rotua Damanik' pesan.txt
Output dari perintah ini nantinya akan terbentuk berkas dengan nama pesan.txt.asc.
Dekripsi pesan-pesan terenkripsi dilakukan dengan perintah yang sama, baik untuk enkripsi format biner maupun format teks ASCII.
gpg --output pesan_baru.txt --decrypt pesan.asc
Hasil dekripsinya akan disimpan di berkas pesan_baru.txt.
Untuk mengenkripsi pesan yang akan dikirimkan ke pihak lain, kita harus memiliki public key dari pihak tersebut. Kita dapat mengimpor sebuah public key dengan perintah:
gpg --import public_key.asc
Daftar kunci yang sudah diimpor di sistem dapat dilihat dengan:
gpg --list-keys
Ketika sudah tidak digunakan, sebuah kunci dapat dihapus menggunakan perintah:
gpg --delete-key 'email@perusahaan.com'
Referensi: dokumentasi GPG.

Friday, February 24, 2012

Mengenkripsi Pesan Text Menggunakan GPG (GNU Privacy Guard)

Berkirim pesan melalui email atau media Internet lainnya mungkin sudah biasa kita lakukan setiap hari. Namun pernahkah kita sadari ada orang lain yang bisa mengintip pesan-pesan yang kita kirimkan dalam bentuk plain text? Kebanyakan pengguna Internet memang masih mengirimkan pesan dalam bentuk teks yang dapat dibaca. Celakanya lagi, kebanyakan protokol Internet seperti HTTP juga tidak melakukan pengamanan terhadap data yang dikirimkan di atasnya. Ini jelas merupakan kerugian bagi para pengguna.
Lalu bagaimana mengatasi isu keamanan ini? Apakah kita tidak boleh mengirimkan data rahasia melalui Internet? Tentu saja boleh, kita gunakan teknik enkripsi untuk mengamankan pesan yang akan dikirimkan. Di sistem operasi Linux ada banyak pilihan dalam urusan enkripsi. Salah satunya adalah GPG atau GNU Privacy Guard. Perangkat lunak ini sudah menjadi standar di berbagai distro Linux sehingga tidak perlu instalasi lagi. Untuk memeriksa instalasi GPG, jalankan saja perintahnya dari terminal.

gpg
Jika hasilnya seperti gambar di bawah, artinya GPG sudah terpasang dengan baik.
Sekarang kita akan mencoba mengkripsi pesan teks yang tersimpan dalam sebuah berkas.
echo Ini adalah pesan rahasia > pesan.txt
gpg -c pesan.txt
Saat melakukan enkripsi kita harus menentukan pass phrase yang nantinya digunakan untuk dekripsi pesan.
Proses enkripsi ini akan menghasilkan berkas baru dengan nama pesan.txt.gpg dengan isi yang akan sangat sulit dipahami. Mari kita cek.
cat pesan.txt.gpg
Hasilnya akan tampak seperti gambar di bawah ini.
Lalu bagaimana orang yang menerima pesan tersebut membacanya? Mereka harus melakukan dekripsi bermodalkan pass phrase yang digunakan dalam enkripsi tadi.
gpg -o dekripsi -d pesan.txt.gpg
Jika pass phrase tidak cocok, maka dekripsi akan gagal. Dalam perintah di atas, pesan hasil dekripsi akan disimpan di berkas 'dekripsi'. Dan isi berkas ini akan sama persis dengan berkas yang dienkripsi.
Selain mengenkripsi dalam bentuk biner, GPG juga dapat mengenkripsi dalam bentuk ASCII yang dapat dibaca namun tidak untuk dipahami. Untuk enkripsi dalam bentuk ASCII gunakan perintah berikut.
gpg -a -c pesan.txt
Hasilnya:
-----BEGIN PGP MESSAGE-----
Version: GnuPG v1.4.11 (GNU/Linux)

jA0EAwMCaO5iM1DsNS1gyTUhcP4KYV9+bedy/YPxSce+SLnGMn/HdemWHnarXchf
klNv4IOHxtPxZwQzqNvf2u5UE/l+pg==
=kJ2h
-----END PGP MESSAGE-----
Berkas hasil enkripsinya akan disimpan dengan ekstensi asc.
GPG mempunyai banyak sekali kemampuan seperti pilihan algoritma enkripsi, penggunaan private key dan public key, dll. Semua kemampuan ini didokumentasikan di halaman manual GPG. Jangan sungkan-sungkan untuk membacanya :-)

Thursday, February 23, 2012

Boot ISO Image Dari Harddisk Dengan Grub 2

Setiap kali ada rilis terbaru dari Ubuntu, Linux Mint, Debian, BlankOn, Fedora, OpenSuSE, Mandriva, atau distro lainnya, apa yang anda lakukan untuk mencobanya? Membakarnya ke dalam CD atau membuat live usb? Kalau masih menggunakan salah satu cara ini sebaiknya berhenti saja mulai sekarang. Ada satu cara yang lebih praktis untuk mencoba live cd distro tanpa menggunakan CD-ROM atau USB Flashdisk. Cara ini praktis karena kita dapat mem-boot ISO image dari berbagai distro langsung dari harddisk.
Kita akan memanfaatkan salah satu fitur terbaru dari Grub 2 yang mampu membuat keajaiban ini terjadi. Sebagai persiapan, unduh salah satu distro favorit anda. Berkas ISO image ini bisa disimpan di mana saja, namun untuk alasan kemudahan kita akan menyimpannya di /boot/images.
su
mkdir /boot/images
cd /boot/images
wget http://kambing.ui.ac.id/iso/ubuntu/releases/oneiric/ubuntu-11.10-desktop-amd64.iso
Kemudian kita perlu menambahkan sebuah entry untuk live cd Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot di berkas /etc/grub.d/40_custom. Buka berkas tersebut, lalu tambahkan konfigurasi seperti contoh berikut:
menuentry "Ubuntu 11.10 Live" {
insmod loopback
insmod iso9660
set isofile="/images/oneiric-desktop-amd64.iso"
loopback loop (hd0,5)$isofile
linux (loop)/casper/vmlinuz boot=casper iso-scan/filename=$isofile noprompt noeject
initrd (loop)/casper/initrd.lz
}
Baris pertama menunjukkan awal dari satu menu entry di grub2 dengan nama "Ubuntu 11.10 Live". Dua baris berikutnya akan memuat modul-modul grub2 yang dibutuhkan untuk mem-boot ISO image dari harddisk. Baris ke-4 mendefenisikan letak penyimpanan dari berkas ISO. Baris ke-5 merupakan inti dari trik ini, baris ini memerintahkan grub2 untuk mengaitkan ISO image dengan opsi loop. (hd0,5) di baris ini menunjukkan lokasi di mana berkas ISO image yang akan di-boot disimpan. Misalnya berkas disimpan di /dev/sda5 maka di baris ini harus digunakan (hd0,5).
Kita lanjutkan dengan memperbarui konfigurasi grub2, jalankan perintah berikut dari terminal:
update-grub2
Hidupkan ulang PC/laptop untuk mencoba masuk ke Live CD yang akan di-boot dari harddisk dengan bantuan Grub 2. Voila, sekarang kita sudah bisa mem-boot live cd tanpa CD atau flashdisk. Referensi:
http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=1549847
http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=1599293

Wednesday, February 22, 2012

Setting Proxy di Ubuntu/Linux Mint/Debian/BlankOn

Ini adalah artikel tutorial untuk pengaturan proxy di klien bukan tutorial pembuatan server proxy menggunakan Squid. Untuk kebanyakan aplikasi di Gnome, setting proxy cukup dilakukan satu kali karena aplikasi di lingkungan Gnome akan menggunakan pengaturan yang sama. Namun beberapa aplikasi seperti Firefox, Pidgin, dkk harus disetting satu per satu ketika menggunakan proxy untuk mengakses Internet.
Setting Proxy Gnome
Di Gnome 3.0 pengaturan proxy dapat dilakukan dari Gnome Control Center.
Di jengela utama Gnome Control Center, klik pada ikon Network di bagian Hardware.
Lalu pilih Network Proxy setelah jendela Network seperti tampak pada gambar di atas muncul. Pada pengaturan proxy ini terdapat tiga pilihan, 1) None, 2) Manual, 3) Automatic. Pilih Manual kemudian masukkan alamat proxy dan nomor port.
Setting Proxy Firefox
Di Firefox, klik menu Edit->Preferences.
Di jendela Preferences, klik tab Advanced->Network. Lalu klik tombol Settings... dan pilih Manual proxy configuration untuk memasukkan alamat dan nomor port dari server proxy.
Setting Proxy Pidgin
Pengaturan server proxy di aplikasi chatting Pidgin bisa saja menggunakan pengaturan yang sudah dilakukan di Gnome Control Center. Pengaturan proxy juga dapat dilakukan per akun atau global untuk semua akun. Untuk mengubah pengaturan pengaturan global untuk semua user, akses menu Tools->Preferences.
Masukkan alamat server proxy dan nomor port di bagian Proxy dengan tipe proxy HTTP.
Untuk pengaturan proxy per akun, edit pengaturan akun dari menu Accounts->[Akunnya]->Modify account. Lalu di bagian proxy pilih tipe proxy HTTP dan masukkan alamat dan nomor port server proxy.
Setting Proxy di Terminal
Aplikasi yang dijalankan dari terminal seperti wget, lynx, w3m, atau apt-get/aptitude hanya dapat mengakses proxy jika dilakukan pengaturan pada environment variabel http_proxy. Untuk pengaturan proxy di terminal, gunakan perintah berikut:
export http_proxy=http://192.168.10.1:3128

Monday, February 20, 2012

Review Linux Mint 12 Edisi KDE

Linux Mint 12 KDE dirilis pada 3 Februari 2012, rentang waktu yang yang cukup lama bila dibandingkan dengan Linux Mint 12 Gnome. Linux Mint KDE masih berbasiskan Ubuntu 11.10, hadir dengan fitur-fitur terbaru seperti KDE 4.7.4, kernel Linux 3.0, hybrid ISO image, search engine baru menggunakan DuckDuckGo, dan perangkat-perangkat lunak terbaru lainnya. Hybrid ISO image memungkinkan pembuatan live usb tanpa bantuan Startup Disk Creator atau UnetBootin, cukup menggunakan dd saja.
Sayangnya saya belum berhasil melakukan instalasi Linux Mint 12 KDE di VirtualBox. Kelihatannya ada bug di installer-nya. Berikut ini adalah beberapa tangkapan gambar desktop Linux Mint 12 KDE pada mode live cd.
Bootloader Linux Mint 12 KDE
Tampilan default desktop
Menu utama a la KDE
Menambahkan widget di desktop
Widget di panel
Network manager
File manager

Sunday, February 19, 2012

Mencetak Poster di Linux Menggunakan Posterazor

Seandainya punya gambar poster (dalam bentuk digital) atau pengumuman berukuran sangat besar dan hendak dicetak, apa yang akan Anda lakukan? Kalau hendak dicetak di satu kertas A4 pastinya tidak akan jadi poster karena kekecilan. Di Linux, bisa distro apa saja (Linux Mint, Ubuntu, BlankOn, atau Debian), ada satu aplikasi yang dapat kita gunakan untuk mencetak gambar berukuran sangat besar. Nama aplikasinya Posterazor. Aplikasi ini memungkinkan kita mencetak satu gambar di beberapa kertas dengan cara memotong-motongnya.
Posterazor sudah tersedia di repo Debian dan kemungkinan besar juga di Ubuntu, Linux Mint, dan BlankOn. Instalasinya dapat dengan mudah kita lakukan dari terminal:
aptitude install posterazor
Selanjutnya Posterazor dapat diakses dari menu Applications->Graphics. Saat pertama kali menjalankan aplikasi ini kita harus memilih gambar yang akan dicetak.

Kemudian kita tentukan ukuran kertas, orientasi, dan batasan dari tepi kertas.
Selanjutnya kita atur ukuran kertas yang nantinya akan saling menindih ketika ditempel di majalah dinding misalnya.
Di pengaturan berikutnya, kita tentukan berapa banyak gambar akan dipotong-potong menjadi bagian-bagian terpisah.
Terakhir, kita simpan poster yang telah dipotong-potong ke dalam bentuk PDF dan siap untuk dicetak.
Jadi mulai sekarang tidak perlu bingung lagi kalau harus mencetak poster berukuran besar menggunakan Linux. Ada Posterazor :-)

Wednesday, February 15, 2012

Cara Mudah Instalasi TeamViewer di Linux Debian 64 bit

Sebenarnya TeamViewer itu aplikasi berbayar, tapi pengguna bisa saja mencobanya dengan gratis dengan syarat hanya untuk pemakaian non-komersial. Sebenarnya juga TeamViewer itu aplikasi untuk Windows, namun bisa dijalankan di Debian Linux menggunakan emulator Wine. Sebenarnya saya juga tidak terlalu senang dengan Wine, candu kita ke aplikasi Windows jadai kambuh lagi. Selain itu instalasinya juga kadang terlalu ribet. Untungnya TeamViewer sudah menyediakan installer berbentuk .deb yang kelihatannya sudah dilengkapi dengan Wine.
Installer-nya bisa diunduh dari situs TeamViewer, gratis. Selain untuk Debian/Ubuntu, di sana juga tersedia installer .rpm untuk distro Fedora, Mandriva, dan OpenSuSE. Jika menggunakan distro selain itu, unduh saja yang berbentuk .tar.gz. Di Debian 64 bit, sebelum instalasi pastikan dulu paket-paket dependensi berikut sudah ada di sistem.
  • lib32asound2
  • lib32z1
  • libxext6
  • ia32-libs
Jika belum, install dengan perintah:
aptitude install lib32asound2 lib32z1libxext6 ia32-libs
Kemudian install TeamViewer :
cd Downloads
su
dpkg -i teamviewer_linux_x64.deb
Pastikan tidak ada error saat proses instalasi. Jalankan TeamViewer dari menu Applications->Accesories. Kita harus menyetujui License Agreement untuk dapat menggunakan TeamViewer. Baca dulu lisensinya lalu klik "Accept License Agreement".
Jendela utama TeamViewer akan menampilkan informasi ID dan password untuk terhubung ke komputer kita. Dari jendela ini kita juga bisa terkoneksi ke komputer lain dengan memasukkan ID komputer yang dituju.
Sebagai percobaan, kita bisa mencoba menggunakan ID komputer yang disediakan TemViewer. Masukkan 12345 di entry "Partner ID" lalu klik "Connect to Partner".
Di jendela password, masukkan password yang dikirimkan TeamViewer melalui tooltip.
Klik "Log On" untuk masuk.
Komputer remote yang disediakan TeamViewer ini memiliki keterbatasan fungsi karena tujuannya memang hanya untuk demo. Koneksinya juga akan diputus setiap lima menit sekali secara otomatis. Tapi sudah cukup untuk sekedar mencoba-coba kemampuan TeamViewer.