Saturday, March 31, 2012

Muhammad Al-Fatih : Tokoh Yang Digerus oleh Mitos Dracula


Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II
Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II

Bila di dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu Muhammad Al-Fatih atau Muhammad II atau di barat lebih di kenal dengan Mehmed II ? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu Dracula ? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan untuk berebut menjawab. Itulah ironi yang terjadi, bahwa generasi muda kita lebih mengenal superhero rekaan Barat dibandingkan pahlawaan yang sebenarnya.
Dunia memang sedang timpang, seperti aliran sungai, mengalir dari Barat menuju Timur. Semua yang berasal dari Barat mengalir deras, membanjiri dunia Timur-mulai cara berfikirnya sampai cara jalannya. Tak terasa kalau sebenarnya penjajahan itu masih terus berlanjut hingga hari ini.
Bentuk penjajahan dari zaman ke zaman memang berbeda, tapi caranya sama : lewat hutang atau perang. Ini yang terjadi sejak zaman perbudakan sampai zamn sekarang. Tengoklah hari ini, utang digelontorkan oleh Negara-negara Barat beserta kroni-kroninya, baik lewat IMF, Bank Dunia, maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan utang tersebut mereka menjerat Negara penerima utang yang ada di Asia, Afrika dan Amerika latin. Sudah banyak Negara yang menjadi korban penjajahan gaya baru ini. Sedangkan Negara-negara yang tidak bisa di ditundukkan dengan utang maka akan di tundukkan dengan perang. Sebagai alasan pemimpin mereka dituduh sebagi pelindung teroris, anti demokrasi, radikal atau komunis. Bentuk ini yang terjadi di Irak, Afghanistan dan Negara-negara di Amerika Latin.
Lantas apa hubugan semua itu dengan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula ?
Saat ini bentuk penjajahan tidak melulu ekonomi dan politik, tapi juga yang lainnya, salahsatunya adalah sejarah. Seharusnya sejarah merupakan air paling bening untuk melihat masa lalu. Akan tetapi, kini sejarah juga tidak lepas dari jerat penjajahan Barat. Mereka, yang mempunyai akses dari uang sampai senjata, informasi sampai teknologi, terus-menerus berusaha melakukan penjajahan sejarah. Mereka berusaha menyingkirkan sejarah versi lain untuk kemudian memaksakan sejarah versi mereka. Lihatlah bagaimana mereka membuat sejaraah tentang Iran, Irak dan Afghanistan, Venezuela dan Cuba, Korea Utara dan Indonesia. Lihat juga bagaimana mereka membuat sejarah tentang Soekarno dan Fidel Castro, Hugo Chaves dan Mahmud Ahmadinejad. Mereka menuliskannya sebagai nasionalis radikal, komunis atau fundamentalis. Simak pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang Perang Salib, Perang Pearl Harbour dan Perang Vietnam.
Bagi kita yang peka, maka penjajahan sejarah itu begitu nyata di depan mata. Namun bagi yang tak peka semua itu tak terasa, bahkan tidak tahu sama sekali.
Vlad Dracula
Vlad Dracula
Kembali lagi ke Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula. Kedua-duanya merupakan tokoh sejarah, Muhammad Al-Fatih adalah penguasa Kesultanan Turki Ottoman kekhalifan umat Islam ketika itu dan Dracula adalah penguasa Wallachia, Eropa. Keduanya juga hidup pada era yang sama, yaitu pada periode akhir Perang Salib. Dan, keduanya pernah terlibat dalam pertempuran yang telah merenggut banyak korban jiwa. Akan tetapi, dalam sejarah yang kemudian berkembang masing-masing mempunyai nasib yang berbeda.
Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tetap tercatat sebagi tokoh sejarah. Tentu saja ia dikenal sebagai “Pembebas Konstantinopel”. Sedangkan Dracula berbeda nasibnya. Ia lebih dikenal sebagai “Vampire” daripada sebagai manusia sejarah. Seperti yang di kisahkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula.
Namun walaupun begitu ia bernasib lebih mujur karena namanya justru di kenal di seantero dunia. Dan, harus diakui ia telah berhasil menenggelamkan nama musuh bebuyutannya, Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II.
Saat ini bahkan umat Islam sendiri akan lebih mengenal Dracula daripada Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Nama Dracula tetap menjadi buah bibir bahkan setelah kematianya pada tahun 1476 M. Awalnya ia menjadi pembicaraan di kalangan masyaraakat pedesaan di Transylvania, Rumania, dan kemudian berkembang ke seantero Eropa. Namun yang terkenal kemudian bukan kekejamannya sebagai pembantai 500.000 manusia, sebagian besar mati karena di sula. Tetapi ia lebih dikenal sebagai hantu jadi-jadian atau Vampire, yaitu manusia penghisap darah. Yang di angkat dan di populerkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula. Kisah inilah yang kemudian terus-menerus didaur ulang sehingga menutupi fakta sejarah yang sebenarnya dan bahkan sudah ribuan film tentang Dracula ini.
Usaha Barat untuk mengangkat pahlawan mereka Dracula, dan menenggelamkan musuh mereka Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II bisa dinilai berhasil. Penenggelaman tersebut dengan menggunakan symbol salib dan bawang putih. Lewat symbol salib Barat sebagaimana di uraikan Hyphatia Cneajna dalam bukunya “Dracula, Pembantai umat islam dalam perang salib” ingin menunjukkan superioritas mereka. Bahwa merekalah yang mampu membunuh Dracula dengan salib ; bahwa merekalah yang bisa mengusir setan yang haus darah dengan salib. Mereka ingin mengatakan kepada dunia bahwa, merekalah ksatria dengan tanda salib di dada yang telah menyelamatkan dunia dari terror Dracula. Dengan cara inilah secara perlahan namun pasti Barat bisa memasukkan ke dalam kesadaran generasi sekarang tentang sosok Dracula. Sehingga nama ini terus-menerus di kenang sepanjang massa, dari anak kecil sampai orang tua. Dan, tak disadari terutama oleh umat Islam sendiri, pahlawan mereka pelan-pelan telah di tenggelamkan dari pentas sejarah. Tak mengherankan memang kalau kemudian kita umat Islam tak mengenal siapa itu Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II.
Tabiat Barat tersebut hingga kini tak pernah berubah. Saat ini mereka datang laksana ksatria pembebas negeri ke Negara-negara yang kata mereka menjadi sarang teroris. Mereka datang dengan membawa slogan kosong bahwa dunia saat ini sedang terancam Dracula baru yang disebut teroris. Padahal, semua itu cuma kedok mereka untuk melakukan penjajahan gaya baru.
Memang beralasan kalau Barat berusaha menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Selain menyangkut dendam lama dalam Perang Salib Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II merupakan tokoh yang mampu merebut benteng terbesar pasukan Romawi, Konstantinopel. Usaha untuk menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II juga bertujuan agar umat Islam terutama generasi mudanya tidak mempunyai tokoh pujaan yang ideal.
Tentu saja jika generasi Islam saat ini meng-idola-kan tokoh seperti Salahuddin Al-Ayubi dan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II, yang kedua-duanya begitu gigih membebaskan Islam dari dominasi Barat. Maka jika ini terjadi tentu saja Amerika Serikat akan terusir dari Afganistan, Pakistan, Irak, Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia, karena generasi muda Islam akan bersatu dan menendangnya keluar. Begitu juga dengan Israel yang menurut John Parkins, Israel adalah infanteri Amerika Serikat di Timur Tengah akan terusir dari bumi Palestina, dan rakyat Palestina pun akan merdeka.
Tokoh seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II memang teladan yang ideal bagi simbol perlawanan terhadap Barat. Ia selain di kenal ulung dalam strategi perang ia juga seorang pecinta ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya beliau mengundang ilmuwan dari berbagai macam Negara dan agama untuk menerjemahkan segala macam buku ke dalam bahasa Turki. Tak mengherankan kalau perpustakaaan di Turki pada masanya menjadi salahsatu perpustakaan paling lengkap di dunia. Karya-karya Yunani, Mesir dan Arab terkumpul menjadi satu sehingga siapapun yang ingin belajar akan menemukan luasnya samudera ilmu pengetahuan.
Yang juga perlu di catat dari Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II adalah toleransinya. Sebagaimana Salahuddin Al-Ayubi yang membebaskan Palestina, ketika memasuki Konstantinopel Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tidak merusak satupun tempat ibadah agama Kristen maupun Yahudi. Semua tempat ibadah milik non Muslim tetap di biarkan berdiri dan umatnya beliau lindungi. Ini tidak hanya dilakukan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II ketika membebaskan Konstantinopel. Sewaktu membebaskan Bosnia hal serupa juga beliau lakukan.
Tiga sifat Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II Anti Barat, pecinta ilmu pengetahuan dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, tentu sifat yang ideal. Jika umat Islam meniru keteladannya maka tentu saja minyak yang ada di Arab Saudi, Mesir, Sudan, Aljazair, Maroko, Libya, Qatar, UEA, Bahrain, Yaman, Oman, Yordania, Syuriah, Libanon, Kuwait, Irak, Afganistan, Pakistan dan negeri kita yang tercinta ini, tidak akan di kuras oleh Amerika Serikat, dan Negara tempat mereka berada akan menjadi Negara yang benar-benar merdeka.
Sayangnya pemimpin di Negara-negara Muslim tidak mempunyai watak dan sifat seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Justru mereka menjual Negara mereka kepada Barat dan merendahkan harga diri mereka di hadapan Barat. Memberikan sumber daya alam yang sangat berharga, minyak, kepada tuan-tuan asing. Dan bahkan memfasilitasi Barat untuk membunuh saudara mereka. Lihatlah pembantaian di Gaza Palestina ini tidak terlepas dari andil Mesir yang tidak membuka perbatasan Rafah antara Mesir dan Palestina. Sungguh tragis memang. Dan juga masih ingat dalam memori kita bagaimana Arab Saudi dan Yordania memberikan fasilitas bandara mereka kepada Amerika Serikat untuk membunuh saudara mereka di Irak. Ironi memang benar-benar Ironis.
Sementara generasi mudanya lebih memuja pahlawan-pahlawan ciptaaan Barat seperti Rambo, James bond, Hunter, Superman, Spiderman. Dan mencontoh tokoh-tokoh idola mereka seperti pemusik, bintang film holywood dan super model dari Barat. Hingga semua itu melenakan generasi Islam dan membawa mereka kepada penyembahan pada manusia dan berhala-berhala materi dan memper-tuhan-kan mode. Bahkan ada semacam kesimpulan bahwa jika seseorang tidak meniru gaya hidup barat atau tidak meng-idola-kan tokoh musik, bintang film dan super model barat ,adalah kuno alias tidak modern. Sebegitukah ??
Memang tidak mudah melepaskan diri dari dominasi Barat. Jerat-jerat itu memang begitu kuat mengikat kesadaran manusia. Walaupun begitu bukan berarti kita harus menyerah. Tentu pasti ada jalan keluarnya. Disamping kita kembali kepada sumber hidup umat Islam Qur’an dan Hadits, salahsatunya juga adalah kritis terhadap sejarah. Mengapa? Karena kekritisan terhadap sejarah akan membuat seseorang tidak mudah di perdaya, karena mengetahui peristiwa sebenarnya. Dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media-media Barat, karena kita tahu hal sebenarnya yang terjadi.

Wallahu ‘a’lam bisawwab

Disalinkan dari buku : “Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula” karya Orhan Basarab.

DOA QUNUT

DOA QUNUT DAN DASAR HUKUMNYA
Hukum doa qunut pada shalat subuh hukumnya sunnah. Pandangan ini dianut oleh madzhab Syafi'i berdasarkan Hadits sebagai berikut:

1. Berdasarkan pada Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Anas bin Malik sebagai berikut:
- Hadits sahih Bukhari dan Muslim dari Anas


ما زال رسول الله يقنت في صلاة الفجر حتى فارق الحياة
Artinya: RasuluLlah selalu berqunut pada shalat subuh ssampai beliau wafat (HR Bukhari dan Muslim).

- Hadits sahih riwayat Muslim dari Anas.

أن رسول الله قنت شهراً يدعو على أحياء من أحياء العرب ثم ترك
Artinya: bahwa Rasulullah berqunut selama sebulan mendoakan orang-orang Arab yang masih hidup kemudian tidak melakjukannya lagi.

- Hadits sunnahnya Qunut nazilah apabila tertimpa musibah atau bencana:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقنت في الفجر والظهر والعصر والمغرب والعشاء
Artinya: Bahwasanya Nabi Muhammad melakukan qunut (nazilah) pada saat shalat subuh, dhuhur (dzuhur), ashar, maghrib, dan isya' (HR Ahmad)

Diriwayatkan juga bahwa Umar bin Khattab membaca doa qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan lainnya.

Berkenaan dengan Hadith yang diriwayatkan oleh Anas ini, menurut al Haithami, para perawinya adalah tsiqah (dapat dipercaya). Menurut Imam Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffadz (ahli hadith) dan mengakui kesahihannya.

Kesahihan ini dinyatakan juga oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang sahih.

Dalam mazhab Syafi'i adalah sunnah hukumnya membaca doa qunut waku melaksanakan shalat subuh, baik saat turunnya bala' atau tidak.

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib.[1]


BACAAN DOA QUNUT (TEKS ARAB)


اللّهم اهدِنا فيمَن هَديْت و عافِنا فيمَن عافيْت و تَوَلَّنا فيمَن تَوَلَّيْت و بارِك لَنا فيما أَعْطَيْت
و قِنا واصْرِف عَنَّا شَرَّ ما قَضَيت فإنك تَقضي ولا يُقضى عَليك فإنَّهُ لا يَذِّلُّ مَن والَيت وَلا يَعِزُّ من عادَيت تَبارَكْتَ رَبَّنا وَتَعا ليتْ َفلكَ الحَمدُ عَلى ما قَضَيْت نَستَغفِرُكَ ونَتوبُ اليك
وصلي الله علي سيدنا محمد النبي الأمي وعلي أله وصحبه وسلم

Artinya: Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. BErilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pda segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engaku beri kekuasaan. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha berkahlah Engkau dan Maha Luhurl`h Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah engkau pastikan. Aku mohon ampun dan kembalilah (taubat) kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam atas nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.


KAPAN QUNUT SUNNAH DIBACA

Doa qunut sunnah dibaca dalam beberapa situasi sebagai berikut:

1. Pada raka'at kedua (raka'at akhir) shalat subuh dibaca setelah ruku' (i'tidal).
2. Pada raka'at akhir (rakaat ketiga) shalat sunnah witir pada paruh kedua bulan Ramadhan.
3. Pada raka'at terakhir shalat fardhu apabila ada bencana. Disebut qunut nazilah.

Tuesday, March 27, 2012

pdf to word menggunakan LibreOffice

Setelah melakukan googling dan mencoba beberapa cara untuk melakukan konversi file .pdf ke word di linux, ternyata konversi pdf to word di linux dapat kita lakukan langsung dengan menggunakan LibreOffice (OpenOffice).
Namun demikian, kita tidak bisa langsung menggunakan fasilitas pdf to word secara otomatis (langsung) karena terlebih dahulu kita harus menambah ekstensi pada LibreOffice agar mampu mengimpor file berbentuk pdf.
Ekstensi yang kita tambahkan adalah Sun Pdf Importer.
Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan baca di sini
Sedangkan tentang ekstensi apa saja yang bisa kita tambahkan di LibreOffice dapat dilihat di sini
Admin belum bisa berkomentar lebih banyak karena baru membaca dan belum sempat mencoba....